Kamis, 14 Oktober 2010

sahabat



Sahabat,
entah berapa juta detik yang kita tinggalkan saat palu itu diketuk….
Sahabat, bahagiakah kau dengan jalanmu?
Aku bahagia dengan jalanku
Meski harus tertatih melewatinya.

Sahabat,
Saat kita bertemu
Akan banyak cerita yang mengalir
Kita akan kembali berbagi meski kerongkongan kering tak terisi
Kita akan saling melukis apa saja yang telah kita lewati
Bertemu jalan berbatukah?
Bertemu kerikil kecil namun tajamkah?
Atau bertemu tol yang indah dengan laut di bawahnya

Sahabat,
Bagaimana denganmu?
Masihkah kau memikirkanku sebelum tertutup matamu?
Masih sempatkah kau mengingatku di aktivitas yang memaksamu melupakanku
Tak ingatkah dirimu?
Bagaimana kita bersama melewati lorong panjang sebelum mengisi perut?
Tak ingatkah bagaimana kita berlari bersama saat akan terlambat kuliah?
Tak ingatkah bagaimana kita berbaring bersama
Saat pengajar sejenak berhenti menyalurkan ilmunya?
Tak ingatkah saat kita berbagi cerita?
Tentang cinta, suka, duka, keluarga, hal yang paling indah, bahkan hal yang paling kita rahasiakan sebelumnya?

Sahabat,
Entah berapa juta detik yang tlah kita lalui
Tanpa berbagi
Tanpa melihat senyum yang tersungging di pipimu?
Ah…
Bicara soal pipi, kau selalau bilang kalau pipiku cabi…
Saat aku mulai mengeluh tentang cabi ini,
Kau selalu berkata, dengan cabi ini, kau akan menjadikanku abadi
Abadi dalam relung hatimu sahabatku..
Kini aku mulai bangga dengan cabiku.
Karena dengan itu aku mengenangmu…
Dengan itu pula aku mengabadikanmu…

Sahabat,
meski palu itu tlah terketuk, tanda perpisahan
kan kuingat kebersamaan yang takkan tergantikan…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar