Selasa, 29 Juni 2010

Bayang-Bayang di Atas Pasir

 

Bau parfum itu menghentakkan langkahku dari kursi roda, mengisi kembali kenangan yang sebelumnya sempat tertimbun waktu, menembus relung-relung darah yang tak pernah berhenti untuk kecewa. Bau parfum ini memberiku rasa bahagia yang luar biasa, memberiku kesempatan mengingat kenangan terindah bersamanya, tapi bau parfum ini sekaligus memberiku resah yang sanggup melemahkan semua syarafku melebihi penyakitku saat ini. Aku merindukannya, satu-satunya orang yang kuharap ada saat kursi roda menjadi temanku yang begitu setia.

“Kau melamun Ningrum?”,suara Nita membuyarkan lamunan panjangku.

Hanya Nita yang kumiliki saat ini, yang masih mau menjengukku dan selalu setia menemaniku, setelah semua orang sekaligus keluargaku menjauh karena pilihanku yang salah di mata mereka tentunya.

“Aduh Ningrum, kau ini, kenapa melamun terus?, kau pasti ingat Aji, ya kan? Sudah hampir 3 minggu kau di rawat di rumah sakit, dia belum juga menjengukmu. Aku nggak tahu lagi harus berkata apa tentang lelaki pujaannmu itu, Ningrum.”

“Dia sibuk, Nita. Aku harus mengerti keadaannya. Dia selalu di sisiku. Di hatiku. Aku juga yakin doanya selalu mengalir untukku, itu lebih penting bukan?”

Memang, Aji selalu membuatku kecewa, tapi seberapapun besar kesalahannya, rasa sayangku tetap lebih besar padanya. Aku tidak terima jika ada orang lain yang menyalahkannya atas apa yang menimpaku. Aku juga tidak rela jika ada orang yang menjelek-jelekkannya di depanku. Biar bagaimanapun dia tetap malaikatku, penerang hatiku. Orang special yang selalumengisihari-harikudengan rasa kebahagiaan.

Inilah pilihanku. Menjadi yang kedua memang bukan perkara yang mudah. Bahkan harusnya bukan pilihan yang harus dipilih, tetapi aku memilihnya. Mungkin sebagai suatu kebodohan, karena di saat wanita lain menginginkan dialah satu-satunya orang yang ada di hidup seorang lelaki, aku malah memilih untuk menjadi yang kedua. Ataukah ini menunjukkan kalau aku wanita yang kuat dan tegar karena menjalani pilihan yang tidak biasa, menjadi istri yang kedua. Aku mengenal Aji, dia sahabatku. Aku mengenalnya sejak kami duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kami terus satu tempat belajar hingga ke bangku kuliah. Kami sering menghabiskan waktu bersama di atas pasir, lalu kami membentuk pasir tersebut menjadi benda yang kami inginkan. Ia selalu merusak hasil karyaku jika merasa milikku lebih bagus, kemudian kami berkejar-kejaran sampai kak-kaki kami membentuk jejak-jejak di atas apsir. Itu adalah saat-saat terindah yang kami lewati bersama.

“Ningrum, minum obat dulu.” Suara Nita kembali membuyarkan angan-anganku.

“Makasih, Nit. Dokter bilang umurku tidak akan lama lagi.”

“Ningrum, kau jangan berkata seperti itu, dokter bukan Tuhan yang bisa menentukan umur manusia.”

Kulihat gurat kecewa di mata Nita melihat kerapuanku.

“Ningrum, aku tahu kau kuat, leukimia bukan masalah yang berta untukmu. Kau telah menjalani berbagai hal yang tidak mudah. Perceraian orang tuamu, meninggalkan keluargamu demi Aji, hingga kau bersedia menjadi yang kedua untuknya. Jadi aku yakin bagian inipun kau akan kuat.”

Nita benar, kehidupan kampus membawa awal kehidupan yang menyakitkan bagiku. Aku tetap dekat dengan aji. Kami masih sering ke pantai dan mengahbiskan waktu bersama. Tapi ada yang berubah. Ia tidak hanya menceritakan kehidupannya, ia mulai menceritaka  tentang Rani, teman cewek sekelasnya. Aji bilang ia kagum padanya. Begitulah, setiap kali kami bertemu, Aji selalu bercerita tentang Rani, gadis yang sangat manis sekaligus pandai. Di mataku memang Rani sosol wanita idaman pria. Entah kenapa aku mulai tidak menyukainya. Aku mulai kehilangan sahabatku, apalagi setelah kudengar mereka berpacaran. Suatu hari, Aji mendapatiku menangis karena melihat undangan pernikahannya.

“Ningrum, apa yang membuatmu seperti ini?, kau tidak senang aku menikah?”

“Entahlah, aku bahagia sekaligus sakit mendengarnya. Aku akan kehilanganmu. Jadikanlah aku milikmu.”

Aji sangat tidak menyangka aku akan berkata seperti itu. Aku pun tidak menyangka aku akan mengeluarkan semua isi hatiku yang selama ini kupendam rapat-rapat. Mendengar perkataanku, Aji memelukku erat, kemudian aku menjalani pilihan sebagai istrinya yang kedua. Tentu saja aku harus kehilangan kasih sayang seluruh anggota keluargaku karena pilihanku ini.

“Ningrum, ada apa? Kau terus melamun?”

“Kau tahu Nit, aku ingin tahu, kenapa Aji menikahiku dan menjadikanku yang kedua. Dia menyayangiku atau hanya sekadar kasihan dan seorang sahabat yang peduli akan ansib sahabatnya?”

“Ningrum, aku yakin dia sangat menyayangimu.”

Nita benar, tidak penting lagi apakah Aji menyayangiku sebagai sahabatnya atau sebagai seorang kekasih. Tak penting lagi bagiku apakah aku selalu menjadi pertama atau yang kedua di hatinya. Tak penting lagi leukemia yang mulai mengurangi daya tahan tubuhku. Yang kutahu akau menyayanginya, bukan karena kesempurnaannya, bukan karena semua kelebihannya, tetapi karena ia adalah Aji. Mendadak semua begitu indah.

Aku mulai mencium bau parfum Aji dan langkah sepatunmya. Oh, malaikatku telah dating. Sahabatku. Kimi menjadi bagian yang begitu berharga di hidupku. Aku mencintainya dan aku bahagia. Langkahnya makin dekat di telingaku, begitupun bau parfumnya. Bau yang paling kususka dan paling kurindukan.

“Ningrum, bagaimana keadaanmu?”

Aji mencium keningku.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar