Kamis, 14 Oktober 2010

sedang apa dirimu?

Sedang apa dirimu?? Mngkinkah kau sedang mendoakanku dalam sujud-sujudmu??
Terlalu banyak yang kita lewati bersama. Terlalu banyak yang membuat kita takkan pernah berpisah untuk saling melupakan atau saling melepas pandang.
Jika aku bersalah padamu…
yang kuminta hanya maafmu…
Maaf….
Untukku yang tak mengerti akan dirimu…
Maaf karena ku tak berani mengambil langkah yang akan membuat kita menyatu…
Maaf…
Karena ku begitu serakah…
Tak rela melepasmu…
Namun tak mampu bersamamu
Bilakah kita bersama?
Mungkin
ini jalan Tuhan yang mengajarkan arti ketulusan..
Ketulusan menyayangi walau tak berbagi…
Ketulusan memberi walau tak saling melengkapi..
Maaf…
Karena ku tak memberi ruang padamu untuk bahagia….
Bersamaku atau lepas dari bayanganku…
Maaf…
Maafkan aku… SINARKU…..

(untukmu, ikh… Sinarku… Surabaya, 27 Agustus 2010, 19:44)

sahabat



Sahabat,
entah berapa juta detik yang kita tinggalkan saat palu itu diketuk….
Sahabat, bahagiakah kau dengan jalanmu?
Aku bahagia dengan jalanku
Meski harus tertatih melewatinya.

Sahabat,
Saat kita bertemu
Akan banyak cerita yang mengalir
Kita akan kembali berbagi meski kerongkongan kering tak terisi
Kita akan saling melukis apa saja yang telah kita lewati
Bertemu jalan berbatukah?
Bertemu kerikil kecil namun tajamkah?
Atau bertemu tol yang indah dengan laut di bawahnya

Sahabat,
Bagaimana denganmu?
Masihkah kau memikirkanku sebelum tertutup matamu?
Masih sempatkah kau mengingatku di aktivitas yang memaksamu melupakanku
Tak ingatkah dirimu?
Bagaimana kita bersama melewati lorong panjang sebelum mengisi perut?
Tak ingatkah bagaimana kita berlari bersama saat akan terlambat kuliah?
Tak ingatkah bagaimana kita berbaring bersama
Saat pengajar sejenak berhenti menyalurkan ilmunya?
Tak ingatkah saat kita berbagi cerita?
Tentang cinta, suka, duka, keluarga, hal yang paling indah, bahkan hal yang paling kita rahasiakan sebelumnya?

Sahabat,
Entah berapa juta detik yang tlah kita lalui
Tanpa berbagi
Tanpa melihat senyum yang tersungging di pipimu?
Ah…
Bicara soal pipi, kau selalau bilang kalau pipiku cabi…
Saat aku mulai mengeluh tentang cabi ini,
Kau selalu berkata, dengan cabi ini, kau akan menjadikanku abadi
Abadi dalam relung hatimu sahabatku..
Kini aku mulai bangga dengan cabiku.
Karena dengan itu aku mengenangmu…
Dengan itu pula aku mengabadikanmu…

Sahabat,
meski palu itu tlah terketuk, tanda perpisahan
kan kuingat kebersamaan yang takkan tergantikan…