sempat ku bertanya,
pada setitik nila
dimanakah ia?
ku cari mulai terbit pagi,
hingga malam mengisi
tak jua ku menemukannya
aku tlah lelah
mengisi lumbung yang kian lama
kian dalam saja
aku tlah letih
trus menangis sambil berlari
mengisi hari
akhirnya ku menyimpanmu dalam hati
andai suatu saat kau kembali
walau itu takkan pernah terjadi
merindukanmu menjadi bagian
paling menyakitkan untukku
Senin, 15 Agustus 2011
Rabu, 10 Agustus 2011
KAKI RAJA BANGAU
Pada zaman dahulu kala, di tepi subuah sungai berdirilah sebuah kerajaan Bangau deengan Rajanya yang mempunyai 4 ekor kaki dan 2 tangan. Dua kaki raja bangau tersebut berukuran sangat panjang dan mempunyai jaring-jaring untuk menangkap ikan sebagai santapannya. Sedangkan dua kaki yang lain berukuran normal seperti kaki bangau-bangau yang lain. Hanya raja bangau yang mempunyai 4 kaki dan dua tangan, sedangkan bangau-bangau yang lain hanya mempunyai dua kaki atau sepasang kaki.
Setiap pagi raja bangau akan menangkap ikan di sungai untuk dimakan. Hal ini membuat ikan-ikan di sungai tersebut ketakutan, sebab raja bangau tersebut membutuhkan ikan yang sangat banyak untuk dijadikan santapannya. Berbeda dengan bangau-bangau yang lain yang porsi makannya sedikit. Hal inilah yang tidak disukai ikan-ikan sebab raja bangau tersebut serakah hanya karena ia diberi kelebihan mempunyai 4 kaki dan dua tangan, dan di salah satu pasang kakinya terdapat jarring-jaring untuk menangkap ikan.
Seperti biasa, pagi ini raja bangau akan menangkap ikan untuk santapannya. Ikan-ikan di sungai sanagt khwatir hari ini mereka akan terjaring dan menjadi santapan raja bangau tersebut.
Akhirnya, mereka mengadakan rapat agar raja bangau tidak semena-mena lagi pada ikan-ikan tersebut, meskipun raja bangau memiliki jarring-jaring untuk menangkap mereka dalam ukuran yang sangat besar.
“Kita harus memikirkan cara agar raja bangau tidak terus menangkap kita dalam jumlah besar lewat jarring yang ada di kakinya itu” ikan Mas Koki mulai emngeluarkan pendapatnya.
“Kau benar Koki, tapi apa yang harus kita lakukan agar di kapok dan tidak emngulangi kesalahannya, aku bingung” ikan Mujair ikut berpendapat.
“Ya Mujair, aku juga bingung.” Udang ikut pula kebingungan tentang tindakan raja bangau.
“Aku punya usul, bagaimana kalau kita makan saja Kaki dan tangan raja bangau saat dicelupkan ke air?”, Koki kembali emngeluarkan pendapatnya.
“Aku setuju dengan pendapatmu, tapi kasihan raja bangau kalau semua tangan dan kakinya kita makan, di pasti sangat tersiksa.” ,Mujair mersa iba.
“Aduh Mujair, kenapa kau punya belas kasihan padanya, dia saja tidak punya belas kasihan pada kita, seenaknya saja tiap hari di amemakan kita dalam jumlah yang sangat banya, sampai-sampai kita takut kita tidak punya keturunan lagi.” , koki mengeluarkan pendapatnya.
“Tapi bagaimanapun kita harus emnyisakan 2 kaki padanya.” , Mujair mengeluarkan pendapat lagi .
“Kami setuju.” , ikan-ikan yang lain setuju dengan pendapat mujair.
Akhirnya mereka sepakat saat raja bangau mencelupkan kaki-kaki dan tangannya ke air, mereka akan bergotong-royong untuk memakannya. Terlebih dahulu mereka akan memakan jarring yang ada di kaki raja bangau, agar jarring itu tidak menangkap mereka. Dengan bersusah payah akhitnya mereka dapat memakan jarring raja bangau, kemudian mereka mulai memakan kakiknya yang berukuran sangat besar dan bisa menjangkau sungai. Setelah itu, baru mereka memakan tangan raja bangau, mereka hanya menyisakan 2 kaki raja bangau.
Raja bangau sangat bersedih dengan kejadian tersebut, sebab ia kehilangan yang selama ini menjadi kebanggaannya. Rakyat-rakyat, raja bangau emnghiburnya dan emnasihati agar raja bangau tidak boleh semena-mena lagi kepada binatang yang lebih kecil, meskipun ia punya kelebihan. Sejak saat itu raja bangau sadar dan ia merelakan kakinya yang berukuran besar, tangan, dan jarring-jaringnya. Ia menjadi raja bangau yang baik dan bijaksana. Ia tidak lagi suka menindas hewan yang lebih kecil dan lebih lemah, ia tidak lagi serakah dan makan secukupnya. Dan sejak saat itu pula kaki para burung bangau menjadi dua, termasuk kaki rajanya.
PEREMPUAN OH PEREMPUAN
Perempuan oh perempuan
Di bawah bulan
Aku melihat perempuan
Mengusap mata dengan telapak tangan
Remang-remang nampak wajahnya muram
Makin lama
Isaknya makin terdengar
Oh perempuan
Apa yang menggelayuti pikiranmu
Hingga kau nampak terpukul
Tak henti mengusap matamu
Kelopakmu makin basah saja
ia Membuatku ingin mengusapnya
Carut marut wajahmu makin kusut
Aku terus berdiri menatapnya
Di depan cermin berada
Di bawah bulan
Aku melihat perempuan
Mengusap mata dengan telapak tangan
Remang-remang nampak wajahnya muram
Makin lama
Isaknya makin terdengar
Oh perempuan
Apa yang menggelayuti pikiranmu
Hingga kau nampak terpukul
Tak henti mengusap matamu
Kelopakmu makin basah saja
ia Membuatku ingin mengusapnya
Carut marut wajahmu makin kusut
Aku terus berdiri menatapnya
Di depan cermin berada
SENYUMAN
Senyuman
Padamu daun ingin kuceritakan
Sepucuk dahan yang kerontang
Padanya sangat ingin kukirimkan salam
Namun, sebatas angan
Karena daun tlah berkembang
Meninggalkan sejuta kenangan
Padanya sangat ingin kukirimkan semua bintang
Namun dahan tlah mematahkan ikatan
Bahkan mengingatmu sekalipun
Tlah menjadi tantangan
Padanya sangat ingin kukirimkan berjuta kerinduan
Yang tak mampu lagi kutahan
Padamu, kukirimkan senyuman
Senyuman yang takkan tergantikan
Padamu daun ingin kuceritakan
Sepucuk dahan yang kerontang
Padanya sangat ingin kukirimkan salam
Namun, sebatas angan
Karena daun tlah berkembang
Meninggalkan sejuta kenangan
Padanya sangat ingin kukirimkan semua bintang
Namun dahan tlah mematahkan ikatan
Bahkan mengingatmu sekalipun
Tlah menjadi tantangan
Padanya sangat ingin kukirimkan berjuta kerinduan
Yang tak mampu lagi kutahan
Padamu, kukirimkan senyuman
Senyuman yang takkan tergantikan
CERITA PEREMPUAN
Cerita Perempuan
selalu kau berbicara
tentang perempuan atas nama
kemanusiaan
kau bercerita
tentang perempuan atas nama
kesetiaan
apa kau lupa?
Kalau aku juga perempuan
Perempuan yang mulutnya terbungkam
Berkorban atas nama perasaan
Apa kau lupa?
Kalau aku juga perempuan
Yang tersingkirkan
Atas nama sumpah kebahagiaan
Dan aku masih saja menjadi
Perempuan yang termarginalkan
Atas nama percintaan
selalu kau berbicara
tentang perempuan atas nama
kemanusiaan
kau bercerita
tentang perempuan atas nama
kesetiaan
apa kau lupa?
Kalau aku juga perempuan
Perempuan yang mulutnya terbungkam
Berkorban atas nama perasaan
Apa kau lupa?
Kalau aku juga perempuan
Yang tersingkirkan
Atas nama sumpah kebahagiaan
Dan aku masih saja menjadi
Perempuan yang termarginalkan
Atas nama percintaan
Langganan:
Komentar (Atom)