Jumat, 05 November 2010
masihkah ada kesempatan
Atau semua tlah tertutup tanpa kemungkinan
Akankah kubiarkan semua arus tanpa muara
Semua rahasia
Rapat tanpa ada seorangpun yang kan membukanya
Oh...
Harus dengan apa kulukiskan
Gelisah yang mengisi
Semua pucuk kalbu?
Aku kehilangan arah
Resah
Musnah
Entah apa lagi yang harus kukatakan untuk melukiskan
Rasaku yang tak sempurna
Mengapung
Tenggelam atau melayang?
Tak jelas apa yang harus kulakukan
spemma (6112010:1300)
ada percakapan kopi
Pagi yang kumulai dengan gundah karena kedatanganmu
Aku merindukan saat-saat ini
Saat kita kembali duduk bersama
Melewati makanan kecil sambil mengobrol ria
Entah kenapa ada yang berbeda
Membicarakan dia
Kenapa harus membahasnya?
Kau bilang apa mauku?
Aku sendiri bingung apa mauku
Kau tanya apa inginku
Aku sendiri bingung apa inginku
Aku resah
resah memikirkanmu
resah memikirkannya
resah denganku yang tak mampu melupakanmu
resah denganku yang tak mampu memilikimu
resah denganku yang tak mampu melepaskannya
resah denganku yang tak mampu bersamanya
jika sekarang kau tanyakan kembali apa mauku?
Kan ku jawab
Aku menginginkanmu
Spemma (61110:1250)
Kamis, 14 Oktober 2010
sedang apa dirimu?
Terlalu banyak yang kita lewati bersama. Terlalu banyak yang membuat kita takkan pernah berpisah untuk saling melupakan atau saling melepas pandang.
Jika aku bersalah padamu…
yang kuminta hanya maafmu…
Maaf….
Untukku yang tak mengerti akan dirimu…
Maaf karena ku tak berani mengambil langkah yang akan membuat kita menyatu…
Maaf…
Karena ku begitu serakah…
Tak rela melepasmu…
Namun tak mampu bersamamu
Bilakah kita bersama?
Mungkin
ini jalan Tuhan yang mengajarkan arti ketulusan..
Ketulusan menyayangi walau tak berbagi…
Ketulusan memberi walau tak saling melengkapi..
Maaf…
Karena ku tak memberi ruang padamu untuk bahagia….
Bersamaku atau lepas dari bayanganku…
Maaf…
Maafkan aku… SINARKU…..
(untukmu, ikh… Sinarku… Surabaya, 27 Agustus 2010, 19:44)
sahabat
Sahabat,
entah berapa juta detik yang kita tinggalkan saat palu itu diketuk….
Sahabat, bahagiakah kau dengan jalanmu?
Aku bahagia dengan jalanku
Meski harus tertatih melewatinya.
Sahabat,
Saat kita bertemu
Akan banyak cerita yang mengalir
Kita akan kembali berbagi meski kerongkongan kering tak terisi
Kita akan saling melukis apa saja yang telah kita lewati
Bertemu jalan berbatukah?
Bertemu kerikil kecil namun tajamkah?
Atau bertemu tol yang indah dengan laut di bawahnya
Sahabat,
Bagaimana denganmu?
Masihkah kau memikirkanku sebelum tertutup matamu?
Masih sempatkah kau mengingatku di aktivitas yang memaksamu melupakanku
Tak ingatkah dirimu?
Bagaimana kita bersama melewati lorong panjang sebelum mengisi perut?
Tak ingatkah bagaimana kita berlari bersama saat akan terlambat kuliah?
Tak ingatkah bagaimana kita berbaring bersama
Saat pengajar sejenak berhenti menyalurkan ilmunya?
Tak ingatkah saat kita berbagi cerita?
Tentang cinta, suka, duka, keluarga, hal yang paling indah, bahkan hal yang paling kita rahasiakan sebelumnya?
Sahabat,
Entah berapa juta detik yang tlah kita lalui
Tanpa berbagi
Tanpa melihat senyum yang tersungging di pipimu?
Ah…
Bicara soal pipi, kau selalau bilang kalau pipiku cabi…
Saat aku mulai mengeluh tentang cabi ini,
Kau selalu berkata, dengan cabi ini, kau akan menjadikanku abadi
Abadi dalam relung hatimu sahabatku..
Kini aku mulai bangga dengan cabiku.
Karena dengan itu aku mengenangmu…
Dengan itu pula aku mengabadikanmu…
Sahabat,
meski palu itu tlah terketuk, tanda perpisahan
kan kuingat kebersamaan yang takkan tergantikan…
Selasa, 29 Juni 2010
Bayang-Bayang di Atas Pasir
Bau parfum itu menghentakkan langkahku dari kursi roda, mengisi kembali kenangan yang sebelumnya sempat tertimbun waktu, menembus relung-relung darah yang tak pernah berhenti untuk kecewa. Bau parfum ini memberiku rasa bahagia yang luar biasa, memberiku kesempatan mengingat kenangan terindah bersamanya, tapi bau parfum ini sekaligus memberiku resah yang sanggup melemahkan semua syarafku melebihi penyakitku saat ini. Aku merindukannya, satu-satunya orang yang kuharap ada saat kursi roda menjadi temanku yang begitu setia.
“Kau melamun Ningrum?”,suara Nita membuyarkan lamunan panjangku.
Hanya Nita yang kumiliki saat ini, yang masih mau menjengukku dan selalu setia menemaniku, setelah semua orang sekaligus keluargaku menjauh karena pilihanku yang salah di mata mereka tentunya.
“Aduh Ningrum, kau ini, kenapa melamun terus?, kau pasti ingat Aji, ya
“Dia sibuk, Nita. Aku harus mengerti keadaannya. Dia selalu di sisiku. Di hatiku. Aku juga yakin doanya selalu mengalir untukku, itu lebih penting bukan?”
Memang, Aji selalu membuatku kecewa, tapi seberapapun besar kesalahannya, rasa sayangku tetap lebih besar padanya. Aku tidak terima jika ada orang lain yang menyalahkannya atas apa yang menimpaku. Aku juga tidak rela jika ada orang yang menjelek-jelekkannya di depanku. Biar bagaimanapun dia tetap malaikatku, penerang hatiku. Orang special yang selalumengisihari-harikudengan rasa kebahagiaan.
Inilah pilihanku. Menjadi yang kedua memang bukan perkara yang mudah. Bahkan harusnya bukan pilihan yang harus dipilih, tetapi aku memilihnya. Mungkin sebagai suatu kebodohan, karena di saat wanita lain menginginkan dialah satu-satunya orang yang ada di hidup seorang lelaki, aku malah memilih untuk menjadi yang kedua. Ataukah ini menunjukkan kalau aku wanita yang kuat dan tegar karena menjalani pilihan yang tidak biasa, menjadi istri yang kedua. Aku mengenal Aji, dia sahabatku. Aku mengenalnya sejak kami duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kami terus satu tempat belajar hingga ke bangku kuliah. Kami sering menghabiskan waktu bersama di atas pasir, lalu kami membentuk pasir tersebut menjadi benda yang kami inginkan. Ia selalu merusak hasil karyaku jika merasa milikku lebih bagus, kemudian kami berkejar-kejaran sampai kak-kaki kami membentuk jejak-jejak di atas apsir. Itu adalah saat-saat terindah yang kami lewati bersama.
“Ningrum, minum obat dulu.” Suara Nita kembali membuyarkan angan-anganku.
“Makasih, Nit. Dokter bilang umurku tidak akan lama lagi.”
“Ningrum, kau jangan berkata seperti itu, dokter bukan Tuhan yang bisa menentukan umur manusia.”
Kulihat gurat kecewa di mata Nita melihat kerapuanku.
“Ningrum, aku tahu kau kuat, leukimia bukan masalah yang berta untukmu. Kau telah menjalani berbagai hal yang tidak mudah. Perceraian orang tuamu, meninggalkan keluargamu demi Aji, hingga kau bersedia menjadi yang kedua untuknya. Jadi aku yakin bagian inipun kau akan kuat.”
Nita benar, kehidupan kampus membawa awal kehidupan yang menyakitkan bagiku. Aku tetap dekat dengan aji. Kami masih sering ke pantai dan mengahbiskan waktu bersama. Tapi ada yang berubah. Ia tidak hanya menceritakan kehidupannya, ia mulai menceritaka tentang Rani, teman cewek sekelasnya. Aji bilang ia kagum padanya. Begitulah, setiap kali kami bertemu, Aji selalu bercerita tentang Rani, gadis yang sangat manis sekaligus pandai. Di mataku memang Rani sosol wanita idaman pria. Entah kenapa aku mulai tidak menyukainya. Aku mulai kehilangan sahabatku, apalagi setelah kudengar mereka berpacaran. Suatu hari, Aji mendapatiku menangis karena melihat undangan pernikahannya.
“Ningrum, apa yang membuatmu seperti ini?, kau tidak senang aku menikah?”
“Entahlah, aku bahagia sekaligus sakit mendengarnya. Aku akan kehilanganmu. Jadikanlah aku milikmu.”
Aji sangat tidak menyangka aku akan berkata seperti itu. Aku pun tidak menyangka aku akan mengeluarkan semua isi hatiku yang selama ini kupendam rapat-rapat. Mendengar perkataanku, Aji memelukku erat, kemudian aku menjalani pilihan sebagai istrinya yang kedua. Tentu saja aku harus kehilangan kasih sayang seluruh anggota keluargaku karena pilihanku ini.
“Ningrum, ada apa? Kau terus melamun?”
“Kau tahu Nit, aku ingin tahu, kenapa Aji menikahiku dan menjadikanku yang kedua. Dia menyayangiku atau hanya sekadar kasihan dan seorang sahabat yang peduli akan ansib sahabatnya?”
“Ningrum, aku yakin dia sangat menyayangimu.”
Nita benar, tidak penting lagi apakah Aji menyayangiku sebagai sahabatnya atau sebagai seorang kekasih. Tak penting lagi bagiku apakah aku selalu menjadi pertama atau yang kedua di hatinya. Tak penting lagi leukemia yang mulai mengurangi daya tahan tubuhku. Yang kutahu akau menyayanginya, bukan karena kesempurnaannya, bukan karena semua kelebihannya, tetapi karena ia adalah Aji. Mendadak semua begitu indah.
Aku mulai mencium bau parfum Aji dan langkah sepatunmya. Oh, malaikatku telah dating. Sahabatku. Kimi menjadi bagian yang begitu berharga di hidupku. Aku mencintainya dan aku bahagia. Langkahnya makin dekat di telingaku, begitupun bau parfumnya. Bau yang paling kususka dan paling kurindukan.
“Ningrum, bagaimana keadaanmu?”
Aji mencium keningku.
Senyum Gelapmu
Melihat senyummu yang hilang
Membuatku senantiasa
Merasa lepas
Mendebarkan semngat yang kau tanyakan
Untukku
Masih pantaskah ku tuk berharap
Padamu
Dengan keputusasaan yang kau titipkan
Padaku…..
Denganmu aku merasa mampu
Membuat cerita dunia maya
Masihkah kita akan terus bersama?
Pertanyaan itu yang selalu kau ajukan padaku
Kau tahu aku takkan pernah mampu menjawabnya
Spemma, 14 Juni 2010
Masihkah Kau di Sana
(Untuk sahabatku, kekasih yang takkan pernah kumiliki)
Masihkah kau di sana?
Melihatku berjalan di belakangmu
Masihkah kau di
Memberikan senyum, terakhirmu untukku
Pedih yang kita rangkai bersama
Entah kapan berakhirnya…
Saling menulis langkah
Yang tak pernah bertemu ujungnya….
Masihkah kau di sana?
Sahabatku…..
Dengan cintamu di dadaku
Menuntun detakan jalanku
Masihkah kau di sana?
Sahabatku…. Kekasihku
Aku mencintaimu…
Kau tahu itu…..
Spemma, 14 Juni 2010